Kamis, 22 September 2016

MAKEPUNG

Mekepung adalah atraksi Karapan Sapi berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali. Mekepung artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai Bajak Lampit Slau. Bajak lampit slau ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat penghias kerbau maka pada leher kerbau tersebut dikalungi genta gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik bajak lampit slau maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik. Karena bekerja gotong royong maka ada bajak banyak yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau yang ditunggangi oleh seorang sais duduk di atas bajak lampit slau.
Atraksi Mekepung di sawah ini berkembang sekitar tahun 1930 dan Sais-nya berpakain ala prajurit Kerajaan di Bali zaman dulu yaitu memakai destar, selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan dipinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng (warna hitam putih).makepung dibagi menjadi 2 wilayah (blok)yaitu blok barat(hijau),blok timur (merah).Nama nama kerbau terkenal di blok barat:moncong putih,dewi natalia,prabu angin ribut,dll.untuk blok timur:barong sangkar agung,lubak barak,sawung galing,mega dewi(alm,dll.

 https://id.wikipedia.org/wiki/Mekepung
sumber : 

TRADISI DUGDERAN

Di daerah Semarang ada tradisi unik loh CGengs saat menyambut Ramadhan. Nama tradisinya yaitu dugderan. Nah, tradisi dugderan ini merupakan kegiatan arak-arakan bedug yang dikawal oleh prajurit. Dulu, arak-arakan ini dikawal oleh prajurit Kadipaten Semarang. Kegiatan ini dilakukan saat mau diumumkannya keputusan awal bulan puasa. Dugderan ini merupakan sebagai tanda masuknya bulan suci Ramadhan.
Dugderan ini merupakan tradisi turun temurun karena sudah ada sejak tahun 1881 loh CGengs yaitu pada masa pemerintahan Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat. Ritual ini berlangsung secara turun temurun di Masjid Besar Kauman, di kawasan Pasar Johar, Semarang. Awal mulainya ritual ini adalah dengan arak-arakan pukulan bedug yang dilakukan setelah shalat Azhar dan sehari menuju Ramadhan. Pukulan bedug iu menghasilkan bunyi “dug” serta dentuman meriam yang menghasilkan bunyi “der” sehingga darisitulah asal mula nama Dugderan.
Ritual selanjutnya adalah prosesi yang harus dilakukan dalam menjalani tradisi dugderan ini, ada 3 prosesi loh yaitu, pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa, dan kirab Dugderan. Pasar Dugderan ini mirip dengan pasar malam CGengs. Uniknya pasar ini adalah dilakukan hanya pada saat bulan Ramadhan. Lokasi dari pasar Dugderan ini adalah di kawasan Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Pasar ini berlangsung dari siang hari hingga malam hari.

Sumber : http://culturenesia.com/tradisi-dugderan-arak-arakan-menyambut-ramadhan/#.V-OiplQxXIU

RITUAL TIWAH


Ritual Tiwah

 
 
 
 
 
 
29 Votes

GriyaWisata.Com-Ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung.
Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.
Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.
Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, Tiwah juga berujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.

sumber :  https://way4x.wordpress.com/cerita-tanah-leluhur/sejarah-suku-dayak/ritual-tiwah/

MOTIF BINATANG

Motif binatang.
Penggambaran binatang dalam ornamen sebagian besar merupakan hasil gubahan/stilirisasi, jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut masih mudah dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya bentuk binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu (tidak sepenuhnya) dan dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan antara lain, burung, singa, ular, kera, gajah dll.
S
 
sumber :  http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html

MOTIF KOSMOS

Motif  kosmos atau berbentuk alam, seperti gunung, air, awan, batu-batuan dan lain-lain.
Motif kosmos atau berbentuk alam dalam penciptaannya biasanya digubah sedemikian rupa sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan sifat benda yang diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika. Misalnya motif bebatuan biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau bidang yang akan dihias dengan motif tersebut.
Dikatakan motif kosmos atau alam memang dalam pembuatannya mengacu pada bentuk-bentuk alam, seperti : awan, cadas, air, batu, gunung, dsb.
 http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html
Sumber : 

MOTIF TUMBUHAN

Penggambaran motif tumbuh-tumbuhan dalam seni ornamen dilakukan dengan berbagai cara baik natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya, demikian juga dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda tergantung dari lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu) tempat motif tersebut diciptakan. Motif tumbuhan yang merupakan hasil gubahan sedemikian rupa jarang dapat dikenali dari jenis dan bentuk tumbuhan apa sebenarnya yang digubah/distilisasi, karena telah diubah dan jauh dari bentuk aslinya.
 

sumber : http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.htmlMotif Tumbuhan

MOTIF GEOMETRIS

Motif Geometris
Motif tertua dari ornamen adalah bentuk geometris, motif ini lebih banyak memanfaatkan unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus, lingkaran, segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, patra mesir “L/T” dan lain-lain. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan-guratan mengikuti bentuk benda yang dihias, dalam perkembangannya motif ini bisa diterapkan pada berbagai tempat dan berbagai teknik, (digambar, dipahat, dicetak).
Disebut motif geometris karena motif ini mengacu pada bentuk ilmu ukur seperti: garis lurus, garis lengkung, lingkaran, segi tiga, segi empat dsb.

sumber :http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html