Mekepung adalah atraksi Karapan Sapi berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali.
Mekepung artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan
tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah
menjadi lumpur dengan memakai Bajak Lampit Slau. Bajak lampit slau ditarik oleh dua ekor kerbau
dan sebagai alat penghias kerbau maka pada leher kerbau tersebut
dikalungi genta gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau
tersebut berjalan menarik bajak lampit slau maka akan kedengaran bunyi
seperti alunan musik. Karena bekerja gotong royong maka ada bajak banyak
yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau yang ditunggangi oleh
seorang sais duduk di atas bajak lampit slau.
Atraksi Mekepung di sawah ini berkembang sekitar tahun 1930 dan Sais-nya berpakain ala prajurit Kerajaan di Bali zaman dulu yaitu memakai destar, selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan dipinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng
(warna hitam putih).makepung dibagi menjadi 2 wilayah (blok)yaitu blok
barat(hijau),blok timur (merah).Nama nama kerbau terkenal di blok
barat:moncong putih,dewi natalia,prabu angin ribut,dll.untuk blok
timur:barong sangkar agung,lubak barak,sawung galing,mega dewi(alm,dll.
https://id.wikipedia.org/wiki/Mekepung
sumber :
KATEGORI
- kebudayaan (4)
- musik tradisional (5)
- ornamen indonesia (4)
- senjata tradisional indonesia (5)
- tarian tradisional (5)
Kamis, 22 September 2016
TRADISI DUGDERAN
Di daerah Semarang ada tradisi unik loh CGengs saat menyambut Ramadhan. Nama tradisinya yaitu dugderan. Nah,
tradisi dugderan ini merupakan kegiatan arak-arakan bedug yang dikawal
oleh prajurit. Dulu, arak-arakan ini dikawal oleh prajurit Kadipaten
Semarang. Kegiatan ini dilakukan saat mau diumumkannya keputusan awal
bulan puasa. Dugderan ini merupakan sebagai tanda masuknya bulan suci
Ramadhan.
Dugderan ini merupakan tradisi turun
temurun karena sudah ada sejak tahun 1881 loh CGengs yaitu pada masa
pemerintahan Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung (KRMT) Purbaningrat.
Ritual ini berlangsung secara turun temurun di Masjid Besar Kauman, di
kawasan Pasar Johar, Semarang. Awal mulainya ritual ini adalah dengan
arak-arakan pukulan bedug yang dilakukan setelah shalat Azhar dan sehari
menuju Ramadhan. Pukulan bedug iu menghasilkan bunyi “dug” serta
dentuman meriam yang menghasilkan bunyi “der” sehingga darisitulah asal
mula nama Dugderan.
Ritual selanjutnya adalah prosesi yang
harus dilakukan dalam menjalani tradisi dugderan ini, ada 3 prosesi loh
yaitu, pasar (malam) Dugder, prosesi ritual pengumuman awal puasa, dan
kirab Dugderan. Pasar Dugderan ini mirip dengan pasar malam CGengs.
Uniknya pasar ini adalah dilakukan hanya pada saat bulan Ramadhan.
Lokasi dari pasar Dugderan ini adalah di kawasan Pasar Johar atau
sekitar Masjid Besar Kauman. Pasar ini berlangsung dari siang hari
hingga malam hari.
Sumber : http://culturenesia.com/tradisi-dugderan-arak-arakan-menyambut-ramadhan/#.V-OiplQxXIU
RITUAL TIWAH
Ritual Tiwah
29 Votes
GriyaWisata.Com-Ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung.
Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.
Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.
Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, Tiwah juga berujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.
sumber : https://way4x.wordpress.com/cerita-tanah-leluhur/sejarah-suku-dayak/ritual-tiwah/
MOTIF BINATANG
Motif binatang.
Penggambaran
binatang dalam ornamen sebagian besar merupakan hasil gubahan/stilirisasi,
jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut masih mudah
dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya bentuk
binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu (tidak sepenuhnya) dan
dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan
antara lain, burung, singa, ular, kera, gajah dll.
S
sumber : http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html
MOTIF KOSMOS
Motif kosmos atau berbentuk alam, seperti gunung,
air, awan, batu-batuan dan lain-lain.
Motif kosmos
atau berbentuk alam dalam penciptaannya biasanya digubah sedemikian rupa
sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan sifat benda
yang diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika. Misalnya motif
bebatuan biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau bidang yang
akan dihias dengan motif tersebut.
Dikatakan
motif kosmos atau alam memang dalam pembuatannya mengacu pada bentuk-bentuk
alam, seperti : awan, cadas, air, batu, gunung, dsb.
http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html
Sumber :
MOTIF TUMBUHAN
Penggambaran
motif tumbuh-tumbuhan dalam seni ornamen dilakukan dengan berbagai cara baik
natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya, demikian juga
dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda tergantung
dari lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu) tempat
motif tersebut diciptakan. Motif tumbuhan yang merupakan hasil gubahan
sedemikian rupa jarang dapat dikenali dari jenis dan bentuk tumbuhan apa
sebenarnya yang digubah/distilisasi, karena telah diubah dan jauh dari bentuk
aslinya.
sumber : http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html

MOTIF GEOMETRIS
Motif Geometris
Motif tertua
dari ornamen adalah bentuk geometris, motif ini lebih banyak memanfaatkan
unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus, lingkaran,
segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, patra mesir
“L/T” dan lain-lain. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan-guratan
mengikuti bentuk benda yang dihias, dalam perkembangannya motif ini bisa
diterapkan pada berbagai tempat dan berbagai teknik, (digambar, dipahat,
dicetak).
Disebut
motif geometris karena motif ini mengacu pada bentuk ilmu ukur seperti: garis
lurus, garis lengkung, lingkaran, segi tiga, segi empat dsb.
sumber :http://www.kangkamal.com/2012/09/ornamen.html
Langganan:
Postingan (Atom)








